<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>BISMILLAH</title>
	<atom:link href="http://aqasy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aqasy.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 16 Jan 2010 08:42:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='aqasy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/14f15ed4e3f6c498fc81290b695d1102?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>BISMILLAH</title>
		<link>http://aqasy.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://aqasy.wordpress.com/osd.xml" title="BISMILLAH" />
	<atom:link rel='hub' href='http://aqasy.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>BIDADARI UNTUK UMAR R.A.</title>
		<link>http://aqasy.wordpress.com/2010/01/16/bidadari-untuk-umar-r-a/</link>
		<comments>http://aqasy.wordpress.com/2010/01/16/bidadari-untuk-umar-r-a/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 08:42:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aqasy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah Kissah-kissah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aqasy.wordpress.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Umar r.a. adalah salah satu dari sahabat Rasulullah s.a.w. Semenjak ia memeluk Islam kaum muslimin seakan memperoleh suatu kekuatan yang sangat besar. Sejak itulah mereka berani solat dan tawaf dikaabah secara terang-terangan. Umar r.a. adalah seorang yang wara, ia sangat teliti dalam mengamalkan Islam. Umar r.a. mempelajari surah Al-Baqoroh selama 10 tahun, ia kemudian melapor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=253&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Umar r.a. adalah salah satu dari sahabat Rasulullah s.a.w. Semenjak ia memeluk Islam kaum muslimin seakan memperoleh suatu kekuatan yang sangat besar. Sejak itulah mereka berani solat dan tawaf dikaabah secara terang-terangan. Umar r.a. adalah seorang yang wara, ia sangat teliti dalam mengamalkan Islam. Umar r.a. mempelajari surah Al-Baqoroh selama 10 tahun, ia kemudian melapor kepada Rasulullah s.a.w. , &#8220;Wahai Rasulullah s.a.w. apakah kehidupanku telah mencerminkan surah Al-Baqoroh, apabila belum maka aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya&#8221;.Rasulullah s.a.w.  menjawab, &#8220;Sudah&#8230;&#8221;!. Umar r.a. mengamalkan agama sesuai dengan kehendak Allah s.w.t. Kerana kesungguhannya inilah maka banyak ayat di Al-Quran yang diturunkan Allah s.w.t. berdasarkan kehendak yang ada pada hatinya, seperti mengenai pengharaman arak, ayat mengenai hijab, dan beberapa ayat Al-Quran lainnya. </p>
<p>Rasulullah s.a.w. seringkali menceritakan kepada para sahabatnya mengenai perjalannya mi&#8217;raj menghadap Allah s.w.t. Rasulullah s.a.w. sering pula menceritakan bagaimana keadaan surga yang dijanjikan Allah s.w.t. kepada sahabat-sahabatnya. Suatu hari ketika Rasulullah s.a.w. dimi&#8217;rajkan menghadap Allah s.w.t. malaikat Jibril a.s. memperlihatkan kepada Rasulullah s.a.w. taman-taman surga. Rasulullah s.a.w. melihat ada sekumpulan bidadari yang sedang bercengkrama. Ada seorang bidadari yang begitu berbeda dari yang lainnya. Bidadari itu menyendiri dan tampak sangat pemalu. Rasulullah s.a.w.  bertanya kepada Jibril a.s., &#8220;Wahai Jibril, bidadari siapakah itu&#8221;?. Malaikat Jibril a.s. menjawab, &#8220;Bidadari itu adalah diperuntukkan bagi sahabatmu Umar r.a.&#8221;. Pernah suatu hari ia membayangkan tentang surga yang engkau ceritakan keindahannya. Ia menginginkan untuknya seorang bidadari yang berbeda dari bidadari yang lainnya. Bidadari yang diinginkannya itu berkulit hitam manis, dahinya tinggi, bagian atas matanya berwarna merah, dan bagian bawah matanya berwarna biru serta memiliki sifat yang sangat pemalu. Kerana sahabat-mu itu selalu memenuhi kehendak Allah s.w.t. maka saat itu juga Allah s.w.t. menjadikan seorang bidadari untuknya sesuai dengan apa yang dikehendaki hatinya&#8221;.</p>
<br />Posted in Hikmah Kissah-kissah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aqasy.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aqasy.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aqasy.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aqasy.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aqasy.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aqasy.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aqasy.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aqasy.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aqasy.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aqasy.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aqasy.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aqasy.wordpress.com/253/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aqasy.wordpress.com/253/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aqasy.wordpress.com/253/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=253&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aqasy.wordpress.com/2010/01/16/bidadari-untuk-umar-r-a/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92a2da726325e80a272649dd41cd8b40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aqasy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kutipan dari &#8220;The choice&#8221;-nya Ahmad Deedat</title>
		<link>http://aqasy.wordpress.com/2010/01/02/kutipan-dari-the-choice-nya-ahmad-deedat/</link>
		<comments>http://aqasy.wordpress.com/2010/01/02/kutipan-dari-the-choice-nya-ahmad-deedat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 12:34:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aqasy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aqasy.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Panggilan Ke Swaziland Beberapa tahun yang lalu, sebuah perdebatan timbul di Swaziland. Raja Sobuza kehilangan Ratu pilihannya. Gereja-gereja Kristen di negara tersebut mulai ribut pada masalah periode menunggu sebelum seorang pria dapat menikah kembali. Bukanlah sebuah masalah yang serius untuk didiskusikan karena raja masih mempunyai 8 istri lagi. Maka topik diubah menjadi: &#8220;Berapa lama seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=71&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Panggilan Ke Swaziland</p>
<p>Beberapa tahun yang lalu, sebuah perdebatan timbul di Swaziland. Raja Sobuza<br />
kehilangan Ratu pilihannya. Gereja-gereja Kristen di negara tersebut mulai ribut<br />
pada masalah periode menunggu sebelum seorang pria dapat menikah kembali.<br />
Bukanlah sebuah masalah yang serius untuk didiskusikan karena raja masih<br />
mempunyai 8 istri lagi. Maka topik diubah menjadi: &#8220;Berapa lama seorang istri<br />
harus menunggu jika suaminya mati.&#8221; Sewaktu debat sedang berlangsung sangat<br />
hebat dalam kerajaan yang kecil sekali tersebut; raja yang baik itu<br />
memerintahkan sebuah muktamar seluruh gereja di negara tersebut untuk membahas<br />
persoalan itu.</p>
<p>Mr. Moosa Borman, seorang Swazi yang telah memeluk Islam, meminta izin raja agar<br />
&#8220;gereja&#8221;nya (Islam) juga diwakilkan dalam debat. Dengan restu Raja, saya juga<br />
diberi kehormatan menghadiri diskusi tersebut.<br />
Hari Minggu pagi, perwakilan berbagai macam golongan Kristen berkumpul untuk<br />
mencapai mufakat dalam masalah periode waktu masa menjanda.</p>
<p>Pembicara bergiliran menyampaikan pidatonya. Tuhan Yang Maha Kuasa telah<br />
memberikan Billy Graham atau Jimmy Swaggart yang potensial bagi bangsa Afrika<br />
dan setiap orang. Pada akhir setiap khotbah pendengar bertepuk tangan dengan<br />
antusias. Pernbicara yang berikutnya datang dan menolak pendahulunya dengan<br />
ekspresi yang secara tidak langsung menyatakan omong kosong, sampah! Dan,<br />
menimbulkan suara tepuk tangan kembali. Dari pagi sampai petang perdebatan<br />
berlangsung. Sekitar pukul 5 sore giliran saya tiba. Dengan sebuah kitab suci<br />
Al-Qur&#8217;an yang Anda lihat di sampul buklet ini, di dalam tangan saya, saya<br />
memulai, &#8220;Dari pagi sampai malam, kita telah meraba-raba untuk sebuah jawaban,<br />
selama berapa lama seorang wanita menunggu sebelum meriikah kembali sesudah<br />
kematian suaminya: dan kita telah mendengar bahwa apa yang dikatakan Perjanjian<br />
Lama dan Perjanjian Baru, dan apa yang dikatakan Perjanjian Baru dan Perjanjian<br />
Lama, tetapi kita belum mendapatkan jawabannya! Karena penyelesaian masalah kita<br />
ada di dalam- &#8220;Perjanjian Terakhir&#8221;.</p>
<p>&#8220;Perjanjian Terakhir&#8221;<br />
&#8220;Perjanjian Terakhir&#8221; adalah sebuah bom bagi pende-ta-pendeta dan penda&#8217;wah<br />
Kristen. Mereka belum pernah mendengar ekspresi perjanjian terakhir dalam<br />
kehidupan mereka.&#8221; Mengutip Lama dan Baru, Baru dan Lama tidak akan menolong<br />
karena jawabannya berada dalam Perjanjian Terakhir Tuhan untuk manusia!&#8221; Saya<br />
mengacungkan kitab di atas kepala saya, dan hanya membaca bahasa Inggris dari<br />
kitab suci Al-Qur&#8217;an, surat kedua ayat 234. Sebuah referensi yang sangat mudah<br />
diingat 2: 234, hanya 2234!</p>
<p>&#8220;Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri istri<br />
(hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber&#8217;iddah) empat bulan sepuluh<br />
hari. Kemudian apabila telah habis &#8216;iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali)<br />
membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah<br />
mengetahui apa yang kamu perbuat.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 234).<br />
Saya bertanya kepada para pendengar, &#8220;Empat bulan sepuluh hari, Anda menghendaki<br />
penjelasan lagi?&#8221; Mereka semua menjawab secara bersamaan, &#8220;Tidak!&#8221;, Saya<br />
menjelaskan kepada mereka hikmah dibalik masa &#8220;empat bulan sepuluh hari&#8221;. Dalam<br />
ayat terdahulu, dalam perjanjian Tuhan yang terakhir dan penghabisan ini, kita<br />
diberitahu tentang masa menunggu setelah perceraian:</p>
<p>&#8220;&#8230; wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali<br />
quru&#8230;.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 228).<br />
Hal ini layak melihat pernikahan yang dalam kondisi bubar mungkin menghasilkan<br />
isu tersebut. Sementara dalam kasus janda akibat kematian ditentukan sebuah masa<br />
tam-bahan satu bulan sepuluh hari. Sangat masuk akal, setiap orang akan setuju,<br />
tetapi apa mu&#8217;jizat atas semua ini? Setiap orang arif dapat memperkirakan masa<br />
tiga bulan setelah per-ceraian dan 4 bulan 10 hari setelah kematian suaminya.<br />
Mu-hammad Shallallahu Alaihi wa Sallam memperkirakan sebaik setiap orang lain!<br />
Ini benar, tetapi bukti bahwa semua ajaran yang sehat dan berguna tersebut<br />
bukanlah pekerjaan tangan Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam ada di dalam ayat<br />
setelah ayat tentang masa 4 bulan dan 10 hari:</p>
<p>&#8220;Dan, tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau<br />
kamu menyembunyikan keinginan (mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui<br />
bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan<br />
janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada<br />
mereka) perkataan yang ma&#8217;ruf. Dan janganlah kamu ber&#8217;azam (bertetap hati) untuk<br />
beraqad nikah, sebelum habis iiddahnya&#8230;.&#8221; (QS. Al-Baqarah: 235)</p>
<p>Sidik Jari Tuhan<br />
&#8220;Jangan memutuskan untuk menikah sampai masa tunggu yang sudah ditetapkan telah<br />
berlalu.&#8221; Ini bukan kecer-dasan Muhammad (saw)! Ini kebijaksanaan Tuhan Yang<br />
Ma-ha Bijaksana. Pencipta Yang Maha Mengetahui, mengetahui kelemahan ciptaannya.<br />
Manusia dalam kerakusan dan nafsu besarnya akan mengambil keuntungan yang tidak<br />
adil dari janda yang sangat bingung. Dia baru saja kehilangan tulang punggung<br />
dan penopang dalam mencari nafkah. Dia mem-punyai sejumlah anak kecil yang harus<br />
diberi makan dan ia mungkin juga kehilangan penampilannya dan nilainya dalam<br />
pasar perkawinan menjadi berkurang. Dia sepertinya berpegang erat pada jerami.<br />
Dalam kondisi emosinya yang tidak stabil ketika pemangsa membuat penawaran.<br />
Dalam keterge-sa-gesaan dan ketidak-amanannya ia mungkin dengan cepat menerima.<br />
Psikolog yang terkemuka (bukan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam)<br />
benar-benar menyadari, se-mua perangkap yang disimpan oleh para pria. Karena itu<br />
ada peringatan &#8211; &#8220;Tidak ada perjanjian sampai masa yang telah ditentukan<br />
dipenuhi!&#8221;</p>
<p>&#8216;Iddah&#8217; sesudah sebuah perceraian adalah 3 bulan. Di sini anda diberikan 40 hari<br />
tambahan untuk memulihkan keseimbangan dan ketenangannya. Dalam masa tersebut,<br />
jika keinginan menikah datang, ia mempunyai kesempatan mendiskusikan masalah<br />
tersebut secara tenang dengan teman atau saudaranya. Dia dapat menghindari<br />
perangkap sebuah penerimaan yang tergesa-gesa dengan sebuah per-kembangan<br />
panjang yang berlarut-larut dan menyakitkan.<br />
Apakah Muhammad Shallallahu Alalhi wa Sallam berfikir dan memecahkan semua ini<br />
di padang pasir 14 abad yang lalu? Anda terlalu memujinya! Berulang kali ia<br />
disuruh menyatakan bahwa hikmah Al-Qur&#8217;an bukanlah perbuatan-nya, Tidak lain<br />
sebuah wahyu yang diturunkan kepadanya oleh pencipta terbaiknya. Jika Anda masih<br />
meragukan kesak-siannya maka terimalah tantangannya. Dia disuruh menyatakan:</p>
<p>&#8220;Katakanlah, &#8216;Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang<br />
serupa Al-Qur&#8217;an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan<br />
dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pem-bantu bagi sebagian yang lain.&#8221; (QS.<br />
Bani &#8216;Israel: 88).<br />
Dunia ditantang untuk menghasilkan sebuah kitab seperti kitab suci Al-Qur&#8217;an dan<br />
dalam 14 abad belum ada satu pun yang berhasil membuatnya. Orang-orang Kristen<br />
Arab yang bangga dengan 15 juta populasi saat ini, agar tidak dikalahkan, telah<br />
membuat Injil-Injil Kristen dalam gaya Al-Qur&#8217;an. Mereka telah melakukan plagiat<br />
terhadap kitab suci Al-Qur&#8217;an dengan mencuri kata-kata dan rangkaian kata bahkan<br />
gaya bahasa, tanpa melupakan Bismillah! Setiap pasal dari ciptaan mereka yang<br />
paling modern mulai dengan ayat pertama wahyu Al-Qur&#8217;an ini. Anda harus<br />
melihatnya untuk mempercayainya. Berikut ini sebuah fotokopi &#8220;wah-yu&#8221; buatan<br />
manusia yang baru.</p>
<p>Inilah bukti lain yang membuktikan bahwa Al-Qur&#8217; an tak dapat dibandingkan.<br />
Cobalah semau Anda. Tantangan masih berlaku. Kitab suci Al-Qur&#8217;an adalah Firman<br />
Allah yang diwahyukan kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan merupakan<br />
mu&#8217;jizat dari mu&#8217;jizat-mu&#8217;jizat!<br />
&#8220;Dan ini sungguh-sungguh sebuah mu&#8217;jizat!&#8221; (Pendeta. Bosworth Smith).<span id="more-71"></span></p>
<br />Posted in Aqidah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aqasy.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aqasy.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aqasy.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aqasy.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aqasy.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aqasy.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aqasy.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aqasy.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aqasy.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aqasy.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aqasy.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aqasy.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aqasy.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aqasy.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=71&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aqasy.wordpress.com/2010/01/02/kutipan-dari-the-choice-nya-ahmad-deedat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92a2da726325e80a272649dd41cd8b40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aqasy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kritik Anjuran Adzan di Telinga Bayi</title>
		<link>http://aqasy.wordpress.com/2009/12/06/kritik-anjuran-adzan-di-telinga-bayi/</link>
		<comments>http://aqasy.wordpress.com/2009/12/06/kritik-anjuran-adzan-di-telinga-bayi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 14:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aqasy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kritik Anjuran Adzan di Telinga Bayi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aqasy.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Kebanyakan buku atau kitab yang menjelaskan hal-hal yang mesti dilakukan ketika menyambut sang buah hati adalah amalan satu ini yaitu adzan dan iqomah di telinga bayi yang baru lahir. Bahkan bukan penulis-penulis kecil saja, ulama-ulama hebat pun menganjurkan hal ini sebagaimana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=201&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><a href="http://aqasy.files.wordpress.com/2009/12/2642068118_09c1a469f8.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-202" title="2642068118_09c1a469f8" src="http://aqasy.files.wordpress.com/2009/12/2642068118_09c1a469f8.jpg?w=150&#038;h=114" alt="" width="150" height="114" /></a>Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</div>
<div id="_mcePaste">Kebanyakan buku atau kitab yang menjelaskan hal-hal yang mesti dilakukan ketika menyambut sang buah hati adalah amalan satu ini yaitu adzan dan iqomah di telinga bayi yang baru lahir. Bahkan bukan penulis-penulis kecil saja, ulama-ulama hebat pun menganjurkan hal ini sebagaimana yang akan kami paparkan. Namun, tentu saja dalam permasalahan ini yang jadi pegangan dalam beragama adalah bukan perkataan si A atau si B. Yang seharusnya yang jadi rujukan setiap muslim adalah Al Qur’an dan hadits yang shohih. Boleh kita berpegang dengan pendapat salah satu ulama, namun jika bertentangan dengan Al Qur’an atau menggunakan hadits yang lemah, maka pendapat mereka tidaklah layak kita ikuti. Itulah yang akan kami tinjau pada pembahasan kali ini. Apakah benar adzan atau iqomah pada bayi yang baru lahir disyari’atkan (disunnahkan)? Kami akan berusaha meninjau dari pendapat para Imam Madzhab, lalu kami akan tinjau dalil yang mereka gunakan. Agar tidak berpanjang lebar dalam muqodimah, silakan simak pembahasan berikut ini.</div>
<div id="_mcePaste">Pendapat Para Ulama Madzhab</div>
<div id="_mcePaste">Para ulama Hambali hanya menyebutkan permasalahan adzan di telinga bayi saja.</div>
<div id="_mcePaste">Para ulama Hanafiyah menukil perkataan Imam Asy Syafi’i dan mereka tidak menganggap mustahil perkataannya (maksudnya: tidak menolak perkataan Imam Asy Syafi’i yang menganjurkan adzan di telinga bayi, pen).</div>
<div id="_mcePaste">Imam Malik memiliki pendapat yang berbeda yaitu beliau membenci perbuatan ini, bahkan menggolongkannya sebagai perkara yang tidak ada tuntunannya.</div>
<div id="_mcePaste">Sebagian ulama Malikiyah menukil perkataan para ulama Syafi’iyah yang mengatakan bahwa tidak mengapa mengamalkan hal ini. (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/779, pada Bab Adzan, Wizarotul Awqof Kuwaitiyyah, Asy Syamilah)</div>
<div id="_mcePaste">Ulama lain yang menganjurkan hal ini adalah Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan Ibnul Qoyyim dalam Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud.</div>
<div id="_mcePaste">Inilah pendapat para ulama madzhab dan ulama lainnya. Intinya, ada perselisihan dalam masalah ini. Lalu manakah pendapat yang kuat?</div>
<div id="_mcePaste">Tentu saja kita harus kembalikan pada dalil yaitu perkataan Allah dan Rasul-Nya.</div>
<div id="_mcePaste">Itulah sikap seorang muslim yang benar. Dia selalu mengembalikan suatu perselisihan yang ada kepada Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana hal ini diperintahkan dalam firman Allah,</div>
<div id="_mcePaste">وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ</div>
<div id="_mcePaste">“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.” (Qs. Asy-Syuura: 10)</div>
<div id="_mcePaste">Ahli tafsir terkemuka, Ibnu Katsir rahimahullah, mengatakan, “Maksudnya adalah (perkara) apa saja yang diperselisihkan dan ini mencakup segala macam perkara, maka putusannya (dikembalikan) pada Allah yang merupakan hakim dalam perselisihan ini. (Di mana perselisihan ini) diputuskan dengan kitab-Nya dan Sunnah (petunjuk) Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala pada ayat yang lain,</div>
<div id="_mcePaste">فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ</div>
<div id="_mcePaste">“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya).” (Qs. An Nisa’ [4]: 59). Yang (memutuskan demikian) adalah Rabb kita yaitu hakim dalam segala perkara. Kepada-Nya lah kita bertawakkal dan kepada-Nya lah kita mengembalikan segala urusan. –Demikianlah perkataan beliau rahimahullah dengan sedikit perubahan redaksi-.</div>
<div id="_mcePaste">Dalil Para Ulama yang Menganjurkan</div>
<div id="_mcePaste">Hadits pertama:</div>
<div id="_mcePaste">Dari ‘Ubaidillah bin Abi Rofi’, dari ayahnya (Abu Rofi’), beliau berkata,</div>
<div id="_mcePaste">رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ</div>
<div id="_mcePaste">“Aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan adzan di telinga Al Hasan bin ‘Ali ketika Fathimah melahirkannya dengan adzan shalat.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)</div>
<div id="_mcePaste">Hadits kedua:</div>
<div id="_mcePaste">Dari Al Husain bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</div>
<div id="_mcePaste">مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ الصَّلَاةَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ</div>
<div id="_mcePaste">“Setiap bayi yang baru lahir, lalu diadzankan di telinga kanan dan dikumandangkan iqomah di telinga kiri, maka ummu shibyan tidak akan membahayakannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Ibnu Sunny dalam Al Yaum wal Lailah). Ummu shibyan adalah jin (perempuan).</div>
<div id="_mcePaste">Hadits ketiga:</div>
<div id="_mcePaste">Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan,</div>
<div id="_mcePaste">أذن في أذن الحسن بن علي يوم ولد ، فأذن في أذنه اليمنى ، وأقام في أذنه اليسرى</div>
<div id="_mcePaste">“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adzan di telinga al-Hasan bin ‘Ali pada hari beliau dilahirkan maka beliau adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri.” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)</div>
<div id="_mcePaste">Untuk memutuskan apakah mengumandangkan adzan di telinga bayi termasuk anjuran atau tidak, kita harus menilai keshohihan hadits-hadits di atas terlebih dahulu.</div>
<div id="_mcePaste">Penilaian Pakar Hadits Mengenai Hadits-Hadits di Atas</div>
<div id="_mcePaste">Penilaian hadits pertama:</div>
<div id="_mcePaste">Para perowi hadits pertama ada enam,</div>
<div id="_mcePaste">مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَّثَنِى عَاصِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ</div>
<div id="_mcePaste">yaitu: Musaddad, Yahya, Sufyan, ‘Ashim bin ‘Ubaidillah, ‘Ubaidullah bin Abi Rofi’, dan Abu Rofi’.</div>
<div id="_mcePaste">Dalam hadits pertama ini, perowi yang jadi masalah adalah ‘Ashim bin Ubaidillah.</div>
<div id="_mcePaste">Ibnu Hajar menilai ‘Ashim dho’if (lemah). Begitu pula Adz Dzahabi mengatakan bahwa Ibnu Ma’in mengatakan ‘Ashim dho’if (lemah). Al Bukhari dan selainnya mengatakan bahwa ‘Ashim adalah munkarul hadits (sering membawa hadits munkar).</div>
<div id="_mcePaste">Dari sini nampak dari sisi sanad terdapat rawi yang lemah sehingga secara sanad, hadits ini sanadnya lemah.</div>
<div id="_mcePaste">Ringkasnya, hadits ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if).</div>
<div id="_mcePaste">Kemudian beberapa ulama menghasankan hadits ini seperti At-Tirmidzi. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan. Kemungkinan beliau mengangkat hadits ini ke derajat hasan karena ada beberapa riwayat yang semakna yang mungkin bisa dijadikan penguat. Mari kita lihat hadits kedua dan ketiga.</div>
<div id="_mcePaste">Penilaian hadits kedua:</div>
<div id="_mcePaste">Para perowi hadits kedua ada lima,</div>
<div id="_mcePaste">حدثنا جبارة ، حدثنا يحيى بن العلاء ، عن مروان بن سالم ، عن طلحة بن عبيد الله ، عن حسين</div>
<div id="_mcePaste">yaitu: Jubaaroh, Yahya bin Al ‘Alaa’, Marwan bin Salim, Tholhah bin ‘Ubaidillah, dan Husain.</div>
<div id="_mcePaste">Jubaaroh dinilai oleh Ibnu Hajar dan Adz Dzahabi dho’if (lemah).</div>
<div id="_mcePaste">Yahya bin Al ‘Alaa’ dinilai oleh Ibnu Hajar orang yang dituduh dusta dan Adz Dzahabi menilainya matruk (hadits yang diriwayatkannya ditinggalkan).</div>
<div id="_mcePaste">Marwan bin Salim dinilai oleh Ibnu Hajar matruk (harus ditinggalkan), dituduh lembek dan juga dituduh dusta.</div>
<div id="_mcePaste">Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 321 menilai bahwa Yahya bin Al ‘Alaa’ dan Marwan bin Salim adalah dua orang yang sering memalsukan hadits.</div>
<div id="_mcePaste">Dari sini sudah dapat dilihat bahwa hadits kedua ini tidak dapat menguatkan hadits pertama karena syarat hadits penguat adalah cuma sekedar lemah saja, tidak boleh ada perowi yang dusta. Jadi, hadits kedua ini tidak bisa mengangkat derajat hadits pertama yang dho’if (lemah) menjadi hasan.</div>
<div id="_mcePaste">Penilaian hadits ketiga:</div>
<div id="_mcePaste">Para perowi hadits ketiga ada delapan,</div>
<div id="_mcePaste">وأخبرنا علي بن أحمد بن عبدان ، أخبرنا أحمد بن عبيد الصفار ، حدثنا محمد بن يونس ، حدثنا الحسن بن عمرو بن سيف السدوسي ، حدثنا القاسم بن مطيب ، عن منصور ابن صفية ، عن أبي معبد ، عن ابن عباس</div>
<div id="_mcePaste">yaitu: Ali bin Ahmad bin ‘Abdan, Ahmad bin ‘Ubaid Ash Shofar, Muhammad bin Yunus, Al Hasan bin Amru bin Saif As Sadusi, dan Qosim bin Muthoyyib, Manshur bin Shofiyah, Abu Ma’bad, dan Ibnu Abbas.</div>
<div id="_mcePaste">Al Baihaqi sendiri dalam Syu’abul Iman menilai hadits ini dho’if (lemah). Namun, apakah hadits ini bisa jadi penguat hadits pertama tadi? Kita harus melihat perowinya lagi.</div>
<div id="_mcePaste">Perowi yang menjadi masalah dalam hadits ini adalah Al Hasan bin Amru.</div>
<div id="_mcePaste">Al Hafidz berkata dalam Tahdzib At Tahdzib no. 538 mengatakan bahwa Bukhari berkata Al Hasan itu kadzdzab (pendusta) dan Ar Razi berkata Al Hasan itu matruk (harus ditinggalkan). Sehingga Al Hafidz berkesimpulan bahwa Al Hasan ini matruk (Taqrib At Tahdzib no. 1269).</div>
<div id="_mcePaste">Kalau ada satu perowi yang matruk (yang harus ditingalkan) maka tidak ada pengaruhnya kualitas perowi lainnya sehingga hadits ini tidak bisa dijadikan penguat bagi hadits pertama tadi.</div>
<div id="_mcePaste">Ringkasnya, hadits kedua dan ketiga adalah hadits maudhu’ (palsu) atau mendekati maudhu’.</div>
<div id="_mcePaste">Dari pembahasan di atas, terlihat bahwa hadits pertama tadi memang memiliki beberapa penguat, tetapi sayangnya penguat-penguat tersebut tidak bisa mengangkatnya dari dho’if (lemah) menjadi hasan. Maka pernyataan sebagian ulama yang mengatakan bahwa hadits ini hasan adalah suatu kekeliruan. Syaikh Al Albani juga pada awalnya menilai hadits tentang adzan di telinga bayi adalah hadits yang hasan. Namun, akhirnya beliau meralat pendapat beliau ini sebagaimana beliau katakan dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 321. Jadi kesimpulannya, hadits yang membicarakan tentang adzan di telinga bayi adalah hadits yang lemah sehingga tidak bisa diamalkan.</div>
<div id="_mcePaste">Seorang ahli hadits Mesir masa kini yaitu Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini hafizhohullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan adzan di telinga bayi adalah hadits yang lemah. Sedangkan suatu amalan secara sepakat tidak bisa ditetapkan dengan hadits lemah. Saya telah berusaha mencari dan membahas hadits ini, namun belum juga mendapatkan penguatnya (menjadi hasan).” (Al Insyirah fi Adabin Nikah, hal. 96, dinukil dari Hadiah Terindah untuk Si Buah Hati, Ustadz Abu Ubaidah, hal. 22-23)</div>
<div id="_mcePaste">Penutup</div>
<div id="_mcePaste">Dalam penutup kali ini, kami ingin menyampaikan bahwa memang dalam masalah adzan di telinga bayi terdapat khilaf (perselisihan pendapat). Sebagian ulama menyatakan dianjurkan dan sebagiannya lagi mengatakan bahwa amalan ini tidak ada tuntunannya. Dan setelah membahas penilaian hadits-hadits tentang dianjurkannya adzan di telinga bayi di atas terlihat bahwa semua hadits yang ada adalah hadits yang lemah bahkan maudhu’ (palsu). Kesimpulannya, hadits adzan di telinga bayi tidak bisa diamalkan sehingga amalan tersebut tidak dianjurkan.</div>
<div id="_mcePaste">Jika ada yang mengatakan, “Kami ikut pendapat ulama yang membolehkan amalan ini.” Cukup kami sanggah, “Ingatlah saudaraku, di antara pendapat-pendapat yang ada pasti hanya satu yang benar. Coba engkau memperhatikan perkataan para salaf berikut ini.</div>
<div id="_mcePaste">Ibnul Qosim mengatakan bahwa beliau mendengar Malik dan Al Laits berkata tentang masalah perbedaan pendapat di antara sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah tepat perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa khilaf (perbedaan pendapat) boleh-boleh saja (ada kelapangan). Tidaklah seperti anggapan mereka. Di antara pendapat-pendapat tadi pasti ada yang keliru dan ada benar.”</div>
<div id="_mcePaste">Begitu pula Asyhab mengatakan bahwa Imam Malik ditanya mengenai orang yang mengambil hadits dari seorang yang terpercaya dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau ditanya, “Apakah engkau menganggap boleh-boleh saja ada perbedaan pendapat (dalam masalah ijtihadiyah, pen)?”</div>
<div id="_mcePaste">Imam Malik lantas menjawab, “Tidak demikian. Demi Allah, yang diterima hanyalah pendapat yang benar. Pendapat yang benar hanyalah satu (dari berbagai pendapat ijtihad yang ada). Apakah mungkin ada dua pendapat yang saling bertentangan dikatakan semuanya benar [?] Tidak ada pendapat yang benar melainkan satu saja.” (Dinukil dari Shohih Fiqh Sunnah, 1/64)”</div>
<div id="_mcePaste">Demikian suadaraku, penjelasan mengenai adzan di telinga bayi. Semoga dengan penjelasan pada posting kali ini, kaum muslimin mengetahui kekeliruan yang telah berlangsung lama di tengah-tengah mereka dan semoga mereka merujuk pada kebenaran. Semoga tulisan ini dapat memperbaiki kondisi kaum muslimin saat ini.</div>
<div id="_mcePaste">Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumman fa’ana bimaa ‘allamtana, wa ‘alimna maa yanfa’una wa zidnaa ‘ilmaa. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</div>
<div id="_mcePaste">Keterangan:</div>
<div id="_mcePaste">Hadits shohih adalah hadist yang memenuhi syarat: semua periwayat dalam hadits tersebut adalah adil (baik agamanya), dhobith (kuat hafalannya), sanadnya bersambung, tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat, dan tidak ada illah (cacat).</div>
<div id="_mcePaste">Hadits hasan adalah hadits yang memenuhi syarat shohih di atas, namun ada kekurangan dari sisi dhobith (kuatnya hafalan).</div>
<div id="_mcePaste">Hadits dho’if (lemah) adalah hadits yang tidak memenuhi syarat shohih seperti sanadnya terputus, menyelisihi riwayat yang lebih kuat (lebih shohih) dan memiliki illah (cacat).</div>
<div id="_mcePaste">Hadits maudhu’ (palsu) adalah hadits yang salah satu perowinya dinilai kadzdzib (pendusta) yakni berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.</div>
<div id="_mcePaste">Hadits matruk (yang harus ditinggalkan) adalah hadits yang salah satu perowinya dituduh kadzib (berdusta).</div>
<div id="_mcePaste">***</div>
<div id="_mcePaste">Panggang, Gunung Kidul, 28 Muharram 1430 H</div>
<div id="_mcePaste">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</div>
<div id="_mcePaste">Artikel www.muslim.or.id</div>
<p>Alhamdulillah wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.<br />
Kebanyakan buku atau kitab yang menjelaskan hal-hal yang mesti dilakukan ketika menyambut sang buah hati adalah amalan satu ini yaitu adzan dan iqomah di telinga bayi yang baru lahir. Bahkan bukan penulis-penulis kecil saja, ulama-ulama hebat pun menganjurkan hal ini sebagaimana yang akan kami paparkan. Namun, tentu saja dalam permasalahan ini yang jadi pegangan dalam beragama adalah bukan perkataan si A atau si B. Yang seharusnya yang jadi rujukan setiap muslim adalah Al Qur’an dan hadits yang shohih. Boleh kita berpegang dengan pendapat salah satu ulama, namun jika bertentangan dengan Al Qur’an atau menggunakan hadits yang lemah, maka pendapat mereka tidaklah layak kita ikuti. Itulah yang akan kami tinjau pada pembahasan kali ini. Apakah benar adzan atau iqomah pada bayi yang baru lahir disyari’atkan (disunnahkan)? Kami akan berusaha meninjau dari pendapat para Imam Madzhab, lalu kami akan tinjau dalil yang mereka gunakan. Agar tidak berpanjang lebar dalam muqodimah, silakan simak pembahasan berikut ini.</p>
<p>Pendapat Para Ulama Madzhab<br />
Para ulama Hambali hanya menyebutkan permasalahan adzan di telinga bayi saja.<br />
Para ulama Hanafiyah menukil perkataan Imam Asy Syafi’i dan mereka tidak menganggap mustahil perkataannya (maksudnya: tidak menolak perkataan Imam Asy Syafi’i yang menganjurkan adzan di telinga bayi, pen).<br />
Imam Malik memiliki pendapat yang berbeda yaitu beliau membenci perbuatan ini, bahkan menggolongkannya sebagai perkara yang tidak ada tuntunannya.<br />
Sebagian ulama Malikiyah menukil perkataan para ulama Syafi’iyah yang mengatakan bahwa tidak mengapa mengamalkan hal ini. (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/779, pada Bab Adzan, Wizarotul Awqof Kuwaitiyyah, Asy Syamilah)<br />
Ulama lain yang menganjurkan hal ini adalah Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan Ibnul Qoyyim dalam Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud.<br />
Inilah pendapat para ulama madzhab dan ulama lainnya. Intinya, ada perselisihan dalam masalah ini. Lalu manakah pendapat yang kuat?<br />
Tentu saja kita harus kembalikan pada dalil yaitu perkataan Allah dan Rasul-Nya.<br />
Itulah sikap seorang muslim yang benar. Dia selalu mengembalikan suatu perselisihan yang ada kepada Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana hal ini diperintahkan dalam firman Allah,<br />
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ<br />
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.” (Qs. Asy-Syuura: 10)<br />
Ahli tafsir terkemuka, Ibnu Katsir rahimahullah, mengatakan, “Maksudnya adalah (perkara) apa saja yang diperselisihkan dan ini mencakup segala macam perkara, maka putusannya (dikembalikan) pada Allah yang merupakan hakim dalam perselisihan ini. (Di mana perselisihan ini) diputuskan dengan kitab-Nya dan Sunnah (petunjuk) Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala pada ayat yang lain,<br />
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ<br />
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya).” (Qs. An Nisa’ [4]: 59). Yang (memutuskan demikian) adalah Rabb kita yaitu hakim dalam segala perkara. Kepada-Nya lah kita bertawakkal dan kepada-Nya lah kita mengembalikan segala urusan. –Demikianlah perkataan beliau rahimahullah dengan sedikit perubahan redaksi-.<br />
Dalil Para Ulama yang Menganjurkan<br />
Hadits pertama:<br />
Dari ‘Ubaidillah bin Abi Rofi’, dari ayahnya (Abu Rofi’), beliau berkata,<br />
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ<br />
“Aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan adzan di telinga Al Hasan bin ‘Ali ketika Fathimah melahirkannya dengan adzan shalat.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)<br />
Hadits kedua:<br />
Dari Al Husain bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ الصَّلَاةَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ<br />
“Setiap bayi yang baru lahir, lalu diadzankan di telinga kanan dan dikumandangkan iqomah di telinga kiri, maka ummu shibyan tidak akan membahayakannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Ibnu Sunny dalam Al Yaum wal Lailah). Ummu shibyan adalah jin (perempuan).<br />
Hadits ketiga:<br />
Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan,<br />
أذن في أذن الحسن بن علي يوم ولد ، فأذن في أذنه اليمنى ، وأقام في أذنه اليسرى<br />
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adzan di telinga al-Hasan bin ‘Ali pada hari beliau dilahirkan maka beliau adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri.” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)<br />
Untuk memutuskan apakah mengumandangkan adzan di telinga bayi termasuk anjuran atau tidak, kita harus menilai keshohihan hadits-hadits di atas terlebih dahulu.<br />
Penilaian Pakar Hadits Mengenai Hadits-Hadits di Atas<br />
Penilaian hadits pertama:<br />
Para perowi hadits pertama ada enam,<br />
مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ قَالَ حَدَّثَنِى عَاصِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ<br />
yaitu: Musaddad, Yahya, Sufyan, ‘Ashim bin ‘Ubaidillah, ‘Ubaidullah bin Abi Rofi’, dan Abu Rofi’.<br />
Dalam hadits pertama ini, perowi yang jadi masalah adalah ‘Ashim bin Ubaidillah.<br />
Ibnu Hajar menilai ‘Ashim dho’if (lemah). Begitu pula Adz Dzahabi mengatakan bahwa Ibnu Ma’in mengatakan ‘Ashim dho’if (lemah). Al Bukhari dan selainnya mengatakan bahwa ‘Ashim adalah munkarul hadits (sering membawa hadits munkar).<br />
Dari sini nampak dari sisi sanad terdapat rawi yang lemah sehingga secara sanad, hadits ini sanadnya lemah.Ringkasnya, hadits ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if).<br />
Kemudian beberapa ulama menghasankan hadits ini seperti At-Tirmidzi. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan. Kemungkinan beliau mengangkat hadits ini ke derajat hasan karena ada beberapa riwayat yang semakna yang mungkin bisa dijadikan penguat. Mari kita lihat hadits kedua dan ketiga.<br />
Penilaian hadits kedua:<br />
Para perowi hadits kedua ada lima,<br />
حدثنا جبارة ، حدثنا يحيى بن العلاء ، عن مروان بن سالم ، عن طلحة بن عبيد الله ، عن حسين<br />
yaitu: Jubaaroh, Yahya bin Al ‘Alaa’, Marwan bin Salim, Tholhah bin ‘Ubaidillah, dan Husain.<br />
Jubaaroh dinilai oleh Ibnu Hajar dan Adz Dzahabi dho’if (lemah).<br />
Yahya bin Al ‘Alaa’ dinilai oleh Ibnu Hajar orang yang dituduh dusta dan Adz Dzahabi menilainya matruk (hadits yang diriwayatkannya ditinggalkan).<br />
Marwan bin Salim dinilai oleh Ibnu Hajar matruk (harus ditinggalkan), dituduh lembek dan juga dituduh dusta.<br />
Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 321 menilai bahwa Yahya bin Al ‘Alaa’ dan Marwan bin Salim adalah dua orang yang sering memalsukan hadits.<br />
Dari sini sudah dapat dilihat bahwa hadits kedua ini tidak dapat menguatkan hadits pertama karena syarat hadits penguat adalah cuma sekedar lemah saja, tidak boleh ada perowi yang dusta. Jadi, hadits kedua ini tidak bisa mengangkat derajat hadits pertama yang dho’if (lemah) menjadi hasan.<br />
Penilaian hadits ketiga:<br />
Para perowi hadits ketiga ada delapan,<br />
وأخبرنا علي بن أحمد بن عبدان ، أخبرنا أحمد بن عبيد الصفار ، حدثنا محمد بن يونس ، حدثنا الحسن بن عمرو بن سيف السدوسي ، حدثنا القاسم بن مطيب ، عن منصور ابن صفية ، عن أبي معبد ، عن ابن عباس<br />
yaitu: Ali bin Ahmad bin ‘Abdan, Ahmad bin ‘Ubaid Ash Shofar, Muhammad bin Yunus, Al Hasan bin Amru bin Saif As Sadusi, dan Qosim bin Muthoyyib, Manshur bin Shofiyah, Abu Ma’bad, dan Ibnu Abbas.<br />
Al Baihaqi sendiri dalam Syu’abul Iman menilai hadits ini dho’if (lemah). Namun, apakah hadits ini bisa jadi penguat hadits pertama tadi? Kita harus melihat perowinya lagi.<br />
Perowi yang menjadi masalah dalam hadits ini adalah Al Hasan bin Amru.<br />
Al Hafidz berkata dalam Tahdzib At Tahdzib no. 538 mengatakan bahwa Bukhari berkata Al Hasan itu kadzdzab (pendusta) dan Ar Razi berkata Al Hasan itu matruk (harus ditinggalkan). Sehingga Al Hafidz berkesimpulan bahwa Al Hasan ini matruk (Taqrib At Tahdzib no. 1269).<br />
Kalau ada satu perowi yang matruk (yang harus ditingalkan) maka tidak ada pengaruhnya kualitas perowi lainnya sehingga hadits ini tidak bisa dijadikan penguat bagi hadits pertama tadi.<br />
Ringkasnya, hadits kedua dan ketiga adalah hadits maudhu’ (palsu) atau mendekati maudhu’.<br />
Dari pembahasan di atas, terlihat bahwa hadits pertama tadi memang memiliki beberapa penguat, tetapi sayangnya penguat-penguat tersebut tidak bisa mengangkatnya dari dho’if (lemah) menjadi hasan. Maka pernyataan sebagian ulama yang mengatakan bahwa hadits ini hasan adalah suatu kekeliruan. Syaikh Al Albani juga pada awalnya menilai hadits tentang adzan di telinga bayi adalah hadits yang hasan. Namun, akhirnya beliau meralat pendapat beliau ini sebagaimana beliau katakan dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 321. Jadi kesimpulannya, hadits yang membicarakan tentang adzan di telinga bayi adalah hadits yang lemah sehingga tidak bisa diamalkan.<br />
Seorang ahli hadits Mesir masa kini yaitu Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini hafizhohullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan adzan di telinga bayi adalah hadits yang lemah. Sedangkan suatu amalan secara sepakat tidak bisa ditetapkan dengan hadits lemah. Saya telah berusaha mencari dan membahas hadits ini, namun belum juga mendapatkan penguatnya (menjadi hasan).” (Al Insyirah fi Adabin Nikah, hal. 96, dinukil dari Hadiah Terindah untuk Si Buah Hati, Ustadz Abu Ubaidah, hal. 22-23)<br />
Penutup<br />
Dalam penutup kali ini, kami ingin menyampaikan bahwa memang dalam masalah adzan di telinga bayi terdapat khilaf (perselisihan pendapat). Sebagian ulama menyatakan dianjurkan dan sebagiannya lagi mengatakan bahwa amalan ini tidak ada tuntunannya. Dan setelah membahas penilaian hadits-hadits tentang dianjurkannya adzan di telinga bayi di atas terlihat bahwa semua hadits yang ada adalah hadits yang lemah bahkan maudhu’ (palsu). Kesimpulannya, hadits adzan di telinga bayi tidak bisa diamalkan sehingga amalan tersebut tidak dianjurkan.<br />
Jika ada yang mengatakan, “Kami ikut pendapat ulama yang membolehkan amalan ini.” Cukup kami sanggah, “Ingatlah saudaraku, di antara pendapat-pendapat yang ada pasti hanya satu yang benar. Coba engkau memperhatikan perkataan para salaf berikut ini.<br />
Ibnul Qosim mengatakan bahwa beliau mendengar Malik dan Al Laits berkata tentang masalah perbedaan pendapat di antara sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah tepat perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa khilaf (perbedaan pendapat) boleh-boleh saja (ada kelapangan). Tidaklah seperti anggapan mereka. Di antara pendapat-pendapat tadi pasti ada yang keliru dan ada benar.”<br />
Begitu pula Asyhab mengatakan bahwa Imam Malik ditanya mengenai orang yang mengambil hadits dari seorang yang terpercaya dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau ditanya, “Apakah engkau menganggap boleh-boleh saja ada perbedaan pendapat (dalam masalah ijtihadiyah, pen)?”<br />
Imam Malik lantas menjawab, “Tidak demikian. Demi Allah, yang diterima hanyalah pendapat yang benar. Pendapat yang benar hanyalah satu (dari berbagai pendapat ijtihad yang ada). Apakah mungkin ada dua pendapat yang saling bertentangan dikatakan semuanya benar [?] Tidak ada pendapat yang benar melainkan satu saja.” (Dinukil dari Shohih Fiqh Sunnah, 1/64)”<br />
Demikian suadaraku, penjelasan mengenai adzan di telinga bayi. Semoga dengan penjelasan pada posting kali ini, kaum muslimin mengetahui kekeliruan yang telah berlangsung lama di tengah-tengah mereka dan semoga mereka merujuk pada kebenaran. Semoga tulisan ini dapat memperbaiki kondisi kaum muslimin saat ini.<br />
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumman fa’ana bimaa ‘allamtana, wa ‘alimna maa yanfa’una wa zidnaa ‘ilmaa. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.<br />
Keterangan:Hadits shohih adalah hadist yang memenuhi syarat: semua periwayat dalam hadits tersebut adalah adil (baik agamanya), dhobith (kuat hafalannya), sanadnya bersambung, tidak menyelisihi riwayat yang lebih kuat, dan tidak ada illah (cacat).Hadits hasan adalah hadits yang memenuhi syarat shohih di atas, namun ada kekurangan dari sisi dhobith (kuatnya hafalan).Hadits dho’if (lemah) adalah hadits yang tidak memenuhi syarat shohih seperti sanadnya terputus, menyelisihi riwayat yang lebih kuat (lebih shohih) dan memiliki illah (cacat).Hadits maudhu’ (palsu) adalah hadits yang salah satu perowinya dinilai kadzdzib (pendusta) yakni berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Hadits matruk (yang harus ditinggalkan) adalah hadits yang salah satu perowinya dituduh kadzib (berdusta).<br />
***<br />
Panggang, Gunung Kidul, 28 Muharram 1430 H<br />
Penulis: Muhammad Abduh TuasikalArtikel www.muslim.or.id</p>
<br />Posted in Kritik Anjuran Adzan di Telinga Bayi Tagged: Kritik Anjuran Adzan di Telinga Bayi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aqasy.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aqasy.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aqasy.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aqasy.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aqasy.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aqasy.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aqasy.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aqasy.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aqasy.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aqasy.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aqasy.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aqasy.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aqasy.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aqasy.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=201&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aqasy.wordpress.com/2009/12/06/kritik-anjuran-adzan-di-telinga-bayi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92a2da726325e80a272649dd41cd8b40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aqasy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aqasy.files.wordpress.com/2009/12/2642068118_09c1a469f8.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">2642068118_09c1a469f8</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SELAMATAN WANITA HAMIL DAN PEMBACAAN DIBA</title>
		<link>http://aqasy.wordpress.com/2009/12/06/selamatan-wanita-hamil-dan-pembacaan-diba/</link>
		<comments>http://aqasy.wordpress.com/2009/12/06/selamatan-wanita-hamil-dan-pembacaan-diba/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 11:27:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aqasy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al &#039;Ilmi]]></category>
		<category><![CDATA[SELAMATAN WANITA HAMIL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aqasy.wordpress.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[Soal Apakah ada dasar hukum selamatan kehamilan, seperti 3 bulanan atau 7 bulanan (bahasa Jawa : Mitoni). Pada acara tersebut juga dsiertai dengan pembacaan diba’. Terus terang sata belum pernah membaca riwayat tentang selamatan seperti di atas pada masa Rasulullah. Mohon penjelasannya Cahyo.Prasongko@XXXX JAWAB: Selamatan kehamilan, seperti 3 bulanan atau 7 bulanan, tidak ada dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=198&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Soal</p>
<p>Apakah ada dasar hukum selamatan kehamilan, seperti 3 bulanan atau 7 bulanan (bahasa Jawa : Mitoni). Pada acara tersebut juga dsiertai dengan pembacaan diba’. Terus terang sata belum pernah membaca riwayat tentang selamatan seperti di atas pada masa Rasulullah. Mohon penjelasannya</p>
<h5>Cahyo.Prasongko@XXXX</h5>
<p><strong>JAWAB:</strong></p>
<p>Selamatan kehamilan, seperti 3 bulanan atau 7 bulanan, tidak ada dalam ajaran Islam. Itu termasuk perkara baru dalam agama, dan semua perkara baru dalam agama adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ</strong></p>
<p><em>Jauhilah semua perkara baru (dalam agama), karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah merupakan kesesatan.</em> (HR Abu Dawud, no. 4607; Tirmidzi, 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah).</p>
<p>Kemudian, jika selamatan kehamilan tersebut disertai dengan keyakinan akan membawa keselamatan dan kebaikan, dan sebaliknya jika tidak dilakukan akan menyebabkan bencana atau keburukan, maka keyakinan seperti itu merupakan kemusyrikan. Karena sesungguhnya keselamatan dan bencana itu hanya di tangan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala semata. Allah berfirman:</p>
<h1><strong>قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ مَا لاَ يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا واللهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَليِمُ</strong></h1>
<p><em>Katakanlah: &#8220;Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa&#8217;at?&#8221;. Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.</em> (QS Al Maidah:76).</p>
<p>Demikian juga dengan pembacaan diba’ pada saat pereyaan tersebut, ataupun lainnya, tidak ada dasarnya dalam ajaran Islam. Karena pada di zaman Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabat, diba itu tidak ada. Diba’ yang dimaksudkan ialah <em>Maulid Ad Daiba’ii</em>, buku yang berisi kisah kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan pujian serta sanjungan kepada Beliau. Banyak pujian tersebut yang <em>ghuluw</em> (berlebihan, melewati batas). Misalnya seperti perkataan:</p>
<p><strong>فَجْرِيُّ الْجَبِيْنِ لَيْلِيُّ الذَّوَآئِبِ * اَلْفِيُّ الْأََنْفِ مِيْمِيُّ الْفَمِ نُوْنِيُّ الْحَاجِبِ *</strong></p>
<p><strong>سَمْعُهُ يَسْمَعُ صَرِيْرَ الْقَلَمِ بَصَرُهُ إِليَ السَّبْعِ الطِّبَاقِ ثَاقِبٌ *</strong></p>
<p><em>Dahi Beliau (Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ) seperti fajar, rambut depan Beliau seperti malam, hidung Beliau berbentuk (huruf) alif, mulut Beliau berbentuk (huruf) mim, alis Beliau berbentuk (huruf) nun, pendengaran Beliau mendengar suara qolam (pena yang menulis taqdir), pandangan Beliau menembus tujuh lapisan (langit atau bumi).</em> (Lihat <em>Majmu’atul Mawalid,</em> hlm. 9, tanpa nama penerbit. Buku ini banyak dijual di toko buku-toko buku agama).</p>
<p><em> </em></p>
<p>Kalimat “<em>pendengaran Beliau mendengar suara qolam (pena yang menulis taqdir)”,</em> jika yang dimaksudkan pada saat mi’raj saja, memang benar, sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits-hadits tentang mi’raj. Namun jika setiap saat, maka ini merupakan kalimat yang melewati batas. Padahal nampaknya, demikian inilah yang dimaksudkan, dengan dalil kalimat berikutnya, yaitu kalimat  “<em>pandangan Beliau menembus tujuh lapisan (langit atau bumi)”.</em> Dan kalimat kedua ini juga pujian ghuluw (melewati batas). Karena sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara ghaib. Yang mengetahui perkara ghaib hanyalah Allah Azza wa Jalla . Allah berfirman:</p>
<p><strong>قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ</strong><em> </em></p>
<p><em>Katakanlah: &#8220;Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah&#8221;, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.</em> (QS An Naml:65).</p>
<p>‘Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha, istri Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, pernah menerima tuduhan keji pada peristiwa “haditsul ifk”. Dan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak mengetahui kebenaran tuduhan tersebut, sampai kemudian turun pemberitaan dari Allah dalam surat An Nuur yang membersihkan ‘Aisyah dari tuduhan keji tersebut. Dan buku <em>Maulid Ad Daiba’ii </em>berisi hadits tentang Nur (cahaya) Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, yang termasuk hadits palsu.</p>
<p>Dalam peristiwa Bai’atur Ridhwan, Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak mengetahui hakikat berita kematian Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu &#8216;anhu , sehingga terjadilah Bai’atur Ridhwan. Namun ternyata, waktu itu Utsman Radhiyallahu &#8216;anhu masih hidup. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memerintahkan RasulNya untuk mengumumkan:</p>
<h2><strong>قُل لآأَقُولُ لَكُمْ عِندِى خَزَآئِنُ اللهِ وَلآأَعْلَمُ الْغَيْبَ</strong></h2>
<p><em>Katakanlah: &#8220;Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib”.</em> (QS Al An’am:50).</p>
<p>Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, bagaimana mungkin seseorang boleh mengatakan “<em>pandangan Beliau menembus tujuh lapisan (langit</em> atau <em>bumi)”</em>?</p>
<p>Semoga jawaban ini cukup bagi kita. Kesimpulan yang dapat kita ambil, bahwa selamatan kehamilan dan pembacaan diba’ termasuk perbuatan maksiat, karena termasuk bid’ah.</p>
<p>Sumber. www.bukhari.or.id</p>
<br />Posted in Al &#039;Ilmi Tagged: SELAMATAN WANITA HAMIL <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aqasy.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aqasy.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aqasy.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aqasy.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aqasy.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aqasy.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aqasy.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aqasy.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aqasy.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aqasy.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aqasy.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aqasy.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aqasy.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aqasy.wordpress.com/198/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=198&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aqasy.wordpress.com/2009/12/06/selamatan-wanita-hamil-dan-pembacaan-diba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92a2da726325e80a272649dd41cd8b40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aqasy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sunah-Sunah Sebelum Shalat Ied Adha</title>
		<link>http://aqasy.wordpress.com/2009/11/26/sunah-sunah-sebelum-shalat-ied-adha/</link>
		<comments>http://aqasy.wordpress.com/2009/11/26/sunah-sunah-sebelum-shalat-ied-adha/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 11:59:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aqasy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al &#039;Ilmi]]></category>
		<category><![CDATA[Sunah" Sebelum Shalat Ied Adha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aqasy.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Tidak ada salahnya kita mengulang kembali beberapa kesunahan sebelum Shalat Ied Adha meskipun shalat itu tiap tahun kita lakukan. Kesunahan perlu kita lakukan selain menjadi acuan dasar Al-Qur’an juga agar apa yang kita lakukan menuai pahala dan berkah. Sunah-Sunah Menjelang shalat Ied Adha antara lain: 1. Mandi Sebelum Shalat Ied Adha dan Berhias Mandi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=194&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<div id="_mcePaste"><a href="http://aqasy.files.wordpress.com/2009/11/2c8422531537a809707a29cdc87bbf3f_free_islamic_cartoon_screensaver.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-195" title="2c8422531537a809707a29cdc87bbf3f_Free_Islamic_cartoon_screensaver" src="http://aqasy.files.wordpress.com/2009/11/2c8422531537a809707a29cdc87bbf3f_free_islamic_cartoon_screensaver.jpg?w=137&#038;h=150" alt="" width="137" height="150" /></a>Tidak ada salahnya kita mengulang kembali beberapa kesunahan sebelum Shalat Ied Adha meskipun shalat itu tiap tahun kita lakukan. Kesunahan perlu kita lakukan selain menjadi acuan dasar Al-Qur’an juga agar apa yang kita lakukan menuai pahala dan berkah.</div>
<div id="_mcePaste">Sunah-Sunah Menjelang shalat Ied Adha antara lain:</div>
<div id="_mcePaste">1. Mandi Sebelum Shalat Ied Adha dan Berhias</div>
<div id="_mcePaste">Mandi dalam fikih berarti membasahi semua tubuh dari ujung rambut hingga kaki, kemudian memakai wewangian.</div>
<div id="_mcePaste">Diceritakan dari Ibnu Umar bahwa beliau mandi sebelum pergi menghadiri shalat ied (Muwatha Malik).</div>
<div id="_mcePaste">Dari Ali pernah ditanya perihal mandi, maka dia menjawab,</div>
<div id="_mcePaste">“Yaitu pada hari Jum’at, hari ‘Arafah, hari raya Fitri dan hari raya Idul Adha.” (HR. Baihaqi).</div>
<div id="_mcePaste">Dianjurkan pula untuk menyempurnakan kebesihan ini dengan merapikan bulu di ketiaknya, memotong kuku dan yang lainnya, sebab dia berfungsi sebagai penyempurna kebersihan dan keindahan.</div>
<div id="_mcePaste">2. Memakai Pakaian Yang Terbaik</div>
<div id="_mcePaste">Selanjutnya memakai pakaian yang bagus dan ini sangat dianjurkan mengingat para sahabat melakukannya.</div>
<div id="_mcePaste">Diceritakan dari Ibnu Umar ra bahwa dia memakai pakaiannya yang paling indah pada dua hari raya (Al-Baihaqi).</div>
<div id="_mcePaste">Ibnul Qoyyim berkata: “Dan Nabi saw memakai pakaian yang paling indah pada dua hari raya, maka beliau memiliki pakaian khusus yang dipakainya pada dua hari raya dan hari jum’at.” (Zadul Ma’ad).</div>
<div id="_mcePaste">3. Makan Setelah Shalat Ied Adha</div>
<div id="_mcePaste">Dianjurkan makan setelah shalat Ied Adha dengan dasar sabda Nabi Saw,</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Bahwa Nabi Saw tidak berangkat shalat di hari raya Ied Fitri kecuali makan dahulu, dan beliau tidak makan pada hari hari raya Ied Adha melainkan setelah selesai shalat Ied.&#8221; (HR. Tirmizi, Ibn Majah dan Ahmad)</div>
<div id="_mcePaste">4. Berbeda Jalan Pergi Pulang</div>
<div id="_mcePaste">Disunahkan pergi dan pulang dengan menggunakan jalan berbeda. Dari Jabir ra berkata:</div>
<div id="_mcePaste">“Bahwa Rasulullah Saw pada hari eid (pergi dan pulang) pada jalan yang berbeda.” (HR. Bukhari)</div>
<div id="_mcePaste">Lakukan perbuatan ini semampunya meskipun hanya berbeda jalan kiri kanan agar mendapat pahala sunnah.</div>
<div id="_mcePaste">5. Shalat 2 Rakaat Ketika Sampai di Rumah</div>
<div id="_mcePaste">Dari Abi Sa’id Al-Khudri ra berkata:</div>
<div id="_mcePaste">“Bahwa Nabi Saw tidak mendirikan shalat apapun sebelum ied dan apabila telah kembali ke rumah maka beliau saw mendirikan shalat dua rakaat.” (HR. Ibnu Majah).</div>
<div id="_mcePaste">Shalat di rumah ini dimungkinkan shalat dhuha sedangkan makna hadist diatas bahwa Nabi tidak shalat sebelum Ied, karena shalat ied ketika itu diselenggarakan di lapangan sehingga tidak ada shalat tahiyatul masjid. Sedangkan jika diadakan di Masjid, maka disunahkan shalat tahiyatul Masjid.</div>
<div id="_mcePaste">PERHATIAN</div>
<div id="_mcePaste">Jangan Shalat Tahiyatul Masjid jika shalat diselenggerakan di Lapangan</div>
<div id="_mcePaste">6. Lakukan Takbir Baik Oleh Pribadi Atau Berjamaah</div>
<div id="_mcePaste">Disunahkan mengumandangkan takbir sejak tenggelamnya matahari pada malam eid, dan takbir ini dijadikan kesepakan oleh empat mazhab (Mahzab Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hanbali) bahkan sebagian ulama ada yang mewajibkannya berdasarkan firman Allah Swt:</div>
<div id="_mcePaste">“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)</div>
<div id="_mcePaste">Bertakbir ini tidak saja dilakukan oleh para muazin di Masjid-masjid, namun disunahkan pula oleh pribadi masing-masing. Lakukan takbir sejak keluar dari rumah menuju tempat shalat dan berhenti sampaishalat didirikan.</div>
<div id="_mcePaste">Diceritakan bahwa Ibnu Umar menjalankan shalat ied di luar mesjid dan beliau bertakbir sehingga sampai di tempat mendirikan shalat dan beliau tetap bertakbir sehingga imam datang. (HR. Daruqutni).</div>
<div id="_mcePaste">Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Nabi saw mengucapkan:</div>
<div id="_mcePaste">الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد</div>
<div id="_mcePaste">Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa Ilaha Ilallah Walahu Akbar Allahu Akbar Walilahi Hamd</div>
<div id="_mcePaste">“ Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan hanya bagi Allahlah segala pujian.”</div>
<div id="_mcePaste">Beliau mengucapkan takbir ini di mesjid, di rumah dan di jalan-jalan.(HR. Mushanaf Abi Syaibah)</div>
<div id="_mcePaste">7. Hadirilah Shalat Ied Adha</div>
<div id="_mcePaste">Tuntutan shalat eid ini sangat dianjurkan bagi pria dan wanita, bahkan sebagian ulama mengatakan wajib dengan dalil Hadits Ummu Athiyah bahwa,</div>
<div id="_mcePaste">&#8221; Nabi saw memerintahkan para wanita yang masih gadis untuk mengerjakannya, begitu juga para wanita yang baru baligh dan mereka yang sedang haid, namun beliau memerintahkan agar wanita yang haid menjauhi tempat pelaksanaan shalat dan mereka menyaksikan kebaikan dan berdo’a bersama bagi kaum muslimin.” (HR. Bukhari)</div>
<div id="_mcePaste">selamat hari raya ied adha semoga berbahagia bersama orang yang dicintai</div>
<div id="_mcePaste">Kang Ackmanz</div>
<p>Tidak ada salahnya kita mengulang kembali beberapa kesunahan sebelum Shalat Ied Adha meskipun shalat itu tiap tahun kita lakukan. Kesunahan perlu kita lakukan selain menjadi acuan dasar Al-Qur’an juga agar apa yang kita lakukan menuai pahala dan berkah.<br />
Sunah-Sunah Menjelang shalat Ied Adha antara lain:<br />
1. Mandi Sebelum Shalat Ied Adha dan Berhias Mandi dalam fikih berarti membasahi semua tubuh dari ujung rambut hingga kaki, kemudian memakai wewangian.<br />
Diceritakan dari Ibnu Umar bahwa beliau mandi sebelum pergi menghadiri shalat ied (Muwatha Malik).<br />
Dari Ali pernah ditanya perihal mandi, maka dia menjawab,<br />
“Yaitu pada hari Jum’at, hari ‘Arafah, hari raya Fitri dan hari raya Idul Adha.” (HR. Baihaqi).<br />
Dianjurkan pula untuk menyempurnakan kebesihan ini dengan merapikan bulu di ketiaknya, memotong kuku dan yang lainnya, sebab dia berfungsi sebagai penyempurna kebersihan dan keindahan.<br />
2. Memakai Pakaian Yang Terbaik Selanjutnya memakai pakaian yang bagus dan ini sangat dianjurkan mengingat para sahabat melakukannya.<br />
Diceritakan dari Ibnu Umar ra bahwa dia memakai pakaiannya yang paling indah pada dua hari raya (Al-Baihaqi).<br />
Ibnul Qoyyim berkata: “Dan Nabi saw memakai pakaian yang paling indah pada dua hari raya, maka beliau memiliki pakaian khusus yang dipakainya pada dua hari raya dan hari jum’at.” (Zadul Ma’ad).<br />
3. Makan Setelah Shalat Ied Adha Dianjurkan makan setelah shalat Ied Adha dengan dasar sabda Nabi Saw,<br />
&#8220;Bahwa Nabi Saw tidak berangkat shalat di hari raya Ied Fitri kecuali makan dahulu, dan beliau tidak makan pada hari hari raya Ied Adha melainkan setelah selesai shalat Ied.&#8221; (HR. Tirmizi, Ibn Majah dan Ahmad)<br />
4. Berbeda Jalan Pergi Pulang Disunahkan pergi dan pulang dengan menggunakan jalan berbeda. Dari Jabir ra berkata:<br />
“Bahwa Rasulullah Saw pada hari eid (pergi dan pulang) pada jalan yang berbeda.” (HR. Bukhari)<br />
Lakukan perbuatan ini semampunya meskipun hanya berbeda jalan kiri kanan agar mendapat pahala sunnah.<br />
5. Shalat 2 Rakaat Ketika Sampai di Rumah Dari Abi Sa’id Al-Khudri ra berkata:“Bahwa Nabi Saw tidak mendirikan shalat apapun sebelum ied dan apabila telah kembali ke rumah maka beliau saw mendirikan shalat dua rakaat.” (HR. Ibnu Majah).<br />
Shalat di rumah ini dimungkinkan shalat dhuha sedangkan makna hadist diatas bahwa Nabi tidak shalat sebelum Ied, karena shalat ied ketika itu diselenggarakan di lapangan sehingga tidak ada shalat tahiyatul masjid. Sedangkan jika diadakan di Masjid, maka disunahkan shalat tahiyatul Masjid.<br />
PERHATIAN Jangan Shalat Tahiyatul Masjid jika shalat diselenggerakan di Lapangan<br />
6. Lakukan Takbir Baik Oleh Pribadi Atau Berjamaah Disunahkan mengumandangkan takbir sejak tenggelamnya matahari pada malam eid, dan takbir ini dijadikan kesepakan oleh empat mazhab (Mahzab Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hanbali) bahkan sebagian ulama ada yang mewajibkannya berdasarkan firman Allah Swt:<br />
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)<br />
Bertakbir ini tidak saja dilakukan oleh para muazin di Masjid-masjid, namun disunahkan pula oleh pribadi masing-masing. Lakukan takbir sejak keluar dari rumah menuju tempat shalat dan berhenti sampaishalat didirikan.Diceritakan bahwa Ibnu Umar menjalankan shalat ied di luar mesjid dan beliau bertakbir sehingga sampai di tempat mendirikan shalat dan beliau tetap bertakbir sehingga imam datang. (HR. Daruqutni). Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Nabi saw mengucapkan:<br />
الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد</p>
<p>Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa Ilaha Ilallah Walahu Akbar Allahu Akbar Walilahi Hamd<br />
“ Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan hanya bagi Allahlah segala pujian.” Beliau mengucapkan takbir ini di mesjid, di rumah dan di jalan-jalan.(HR. Mushanaf Abi Syaibah)<br />
7. Hadirilah Shalat Ied Adha Tuntutan shalat eid ini sangat dianjurkan bagi pria dan wanita, bahkan sebagian ulama mengatakan wajib dengan dalil Hadits Ummu Athiyah bahwa, &#8221; Nabi saw memerintahkan para wanita yang masih gadis untuk mengerjakannya, begitu juga para wanita yang baru baligh dan mereka yang sedang haid, namun beliau memerintahkan agar wanita yang haid menjauhi tempat pelaksanaan shalat dan mereka menyaksikan kebaikan dan berdo’a bersama bagi kaum muslimin.” (HR. Bukhari)<br />
selamat hari raya ied adha semoga berbahagia bersama orang yang dicintai<br />
Kang Ackmanz</p>
<p>( disadur dr catatan facebook Umrah Amani )</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />Posted in Al &#039;Ilmi Tagged: Sunah" Sebelum Shalat Ied Adha <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aqasy.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aqasy.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aqasy.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aqasy.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aqasy.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aqasy.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aqasy.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aqasy.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aqasy.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aqasy.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aqasy.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aqasy.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aqasy.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aqasy.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=194&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aqasy.wordpress.com/2009/11/26/sunah-sunah-sebelum-shalat-ied-adha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92a2da726325e80a272649dd41cd8b40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aqasy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aqasy.files.wordpress.com/2009/11/2c8422531537a809707a29cdc87bbf3f_free_islamic_cartoon_screensaver.jpg?w=137" medium="image">
			<media:title type="html">2c8422531537a809707a29cdc87bbf3f_Free_Islamic_cartoon_screensaver</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penipuan Atas Nama Grapari</title>
		<link>http://aqasy.wordpress.com/2009/11/03/penipuan-atas-nama-grapari/</link>
		<comments>http://aqasy.wordpress.com/2009/11/03/penipuan-atas-nama-grapari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 06:06:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aqasy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Waspada]]></category>
		<category><![CDATA[Penipuan Grapari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aqasy.wordpress.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Hati-hati dengan penipuan model saat ini, si penipu tidak tanggung-tanggung mengatas namakan operator besar suatu Jaringan Telekomunikasi. Modal penipuannya pun lebih mahal, merka bukan cuma sms tapi berani menelpon calon-calon korban dr nomor2 acak. Selama ini saya sudah kena 3 kali. dan keseluruhan dari nomor-nomor telkomsel. (pengalaman dari operator lain belum ada) Biasanya modus yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=185&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hati-hati dengan penipuan model saat ini, si penipu tidak tanggung-tanggung mengatas namakan operator besar suatu Jaringan Telekomunikasi. Modal penipuannya pun lebih mahal, merka bukan cuma sms tapi berani menelpon calon-calon korban dr nomor2 acak. Selama ini saya sudah kena 3 kali. dan keseluruhan dari nomor-nomor telkomsel. (pengalaman dari operator lain belum ada)</p>
<p>Biasanya modus yang dipakai hanya menggunakan sms, (kalau modus ini saya sudah kena puluhan kali, biasanya saya balas, makasih ntuk doanya om, lain waktu nnti saya petik ^_^ &#8230; amiiiiin ). mungkin masyarakat dah terlalu tau dan basi banget dgn penipuan-penipuan konyol ala sms spt itu. maka modus ini biasa di pakai pada nomor-nomor baru. Pengalaman saya, jika saya baru saja mengaktifkan suatu nomor perdana bbrp saat kmudian slalu ada sms-sms penipuan spt itu. wallahualam ntuk kawan-kawan yang lain. &#8211;&gt;modus yang ini menyerang pada operator manapun.&lt;&#8211;</p>
<p>Nah yang ingin saya bagi pengalamannya tetang modus mutakhir ala grapari. lakon menelepon si calon korban dgn, mengatakan bahwa dia dari garapari telomsel Jak-pus atau daerah lainnya. (yg terjadi pada saya grapari bandar lampung, dan JakPus ), bahwa saya mendapatkan undian gebyar telkomsel senilai 10 juta ( yang terakhir saya dapat 6 juta plus 1 juta pulsa ), lalu dia memperkenalkan namanya si a-z, gak tanggung-tanggung plus nyebutin nama lengkap dgn gelar hajinya sekalian ( mungkin nama karangan ).</p>
<p>Hadiah tersebut tanpa pajak dan dikirimkan langsung mlalui rekening bank. dia meyakinkan apakah rek itu plus ATM, jika iya, kita disuruh meluncur ke mesin ATM dan di pandu pengaktifasiannya&#8230; nah lhoooo&#8230; curigation di mulai. waktu itu saya tidak ragu ntuk mengatakan no rek bank BNI Syariah saya yang kebetulannya dapat nomor cantik sekali&#8230;hehehe (pameeeeeeerrr). Sy tdk memiliki saldo secuilpun alias kosong, krn baru di kuras. Saya ingin tau metode apa yg di pakai. Ternyata dengan alasan pengiriman  menggunakan internet banking (<em>I banking</em>), korban dibuat menurut. ( untuk org yang awam, yg tidak mengerti bagaimana prosedur I Banking pasti manut wae ). kebetulan rek saya satunya memakai I Banking, jd ketika dia memberikan prosedur yg superr ribet, sungguh tdk spt itu I banking pada kenyataannya !!. </p>
<p>Ternyata dari arahannya kita di suruh memasukkan sebuah no Rek org lain, yg sblmnya di rek kita ditanya ada nominal brp. Krn saya orangnya jujur saya katakan saja kosong. Mungkin dia tdk percaya, dan saya di minta mengetik sejumlah nominal uang. trraaaraaaaa&#8230;. so pasti pengiriman gagal !!. ( dibilangin nggak percaya sih ). Lalu dia bilang, klo kosong bener tidak bisa bu, paling tidak harus ada sejumlah nominal uang. krn pinnya tidak mau kebuka.</p>
<p>nah lhooo, untuk saudara-saudara yg mengenai nasib serupa, berhati-hatilah, jangan diteruskan. dr bbrp pengalaman kawan, mereka pun meminta dikirimkan sejumlah nominal pulsa untuk alasan aktifasi membuka pin yg di kodekan pada voucher. saya rasa penipuan model ini sudah benar-benar menyebar. mengingat modus biasa mengenai nomor2 baru, namun hari ini, saya agak terkejut nomor saya yang sudah sudah cukup tua renta masih di santronin penyamun juga. saya jadi curiga&#8230; ada kah keberpihakan dr oknum-oknum orang dalam ???. karena nomor baru yg saya pakai bukan untuk transportasi telepon ataupun sms.<br />
Khusus nomor hallo untuk fasilitas akses Internet Telkomsel Flash.</p>
<p>mungkin jika nomor itu di pajang di counter, oknum gampang saja mencatat. Tapi ini saya urus dan dapat langsung dr grapari bandar lampung. bisa jadi hanya orang yg iseng asal pencet nomor.<br />
namun yang membuat saya curiga, hari ini kena besok nya ada lagi dengan org yang berbeda, plekk !! sangat mirip dgn modus pertama.</p>
<p>ada apa dengan grapari ???&#8230;<br />
2 nomor telkomsel saya, dah di kunjungi penyamun, mungkin teman-teman yang lainnyapun begitu. ataukah karena begitu besarnya pelanggan Teklomsel. hingga menjadi sasaran empuk, menu utama sang penyamun&#8230;&#8230;.. wallahualam&#8230;.</p>
<br />Posted in Waspada Tagged: Penipuan Grapari <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aqasy.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aqasy.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aqasy.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aqasy.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aqasy.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aqasy.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aqasy.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aqasy.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aqasy.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aqasy.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aqasy.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aqasy.wordpress.com/185/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aqasy.wordpress.com/185/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aqasy.wordpress.com/185/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=185&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aqasy.wordpress.com/2009/11/03/penipuan-atas-nama-grapari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92a2da726325e80a272649dd41cd8b40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aqasy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GUNUNG MENANGIS TAKUT TERGOLONG BATU API NERAKA</title>
		<link>http://aqasy.wordpress.com/2009/09/23/gunung-menangis-takut-tergolong-batu-api-neraka/</link>
		<comments>http://aqasy.wordpress.com/2009/09/23/gunung-menangis-takut-tergolong-batu-api-neraka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 12:50:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aqasy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah Kissah-kissah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aqasy.wordpress.com/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari Uqa&#8217;il bin Abi Thalib telah pergi bersama-sama dengan Nabi Muhammad S.A.W. Pada waktu itu Uqa&#8217;il telah melihat berita ajaib yang menjadikan tetapi hatinya tetap bertambah kuat di dalam Islam dengan sebab tiga perkara tersebut. Peristiwa pertama adalah, bahawa Rasulullah S.A.W akan mendatangi hajat yakni mebuang air besar dan di hadapannya terdapat beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=183&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu hari Uqa&#8217;il bin Abi Thalib telah pergi bersama-sama dengan Nabi Muhammad S.A.W. Pada waktu itu Uqa&#8217;il telah melihat berita ajaib yang menjadikan tetapi hatinya tetap bertambah kuat di dalam Islam dengan sebab tiga perkara tersebut. Peristiwa pertama adalah, bahawa Rasulullah S.A.W akan mendatangi hajat yakni mebuang air besar dan di hadapannya terdapat beberapa batang pohon. Maka baginda S.A.W berkata kepada Uqa&#8217;il, &#8220;Hai Uqa&#8217;il teruslah engkau berjalan sampai ke pohon itu, dan katalah kepadanya, bahawa sesungguhnya Rasulullah berkata; Agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi aling-aling atau penutup baginya, kerana sesungguhnya baginda akan mengambil air wuduk dan buang air besar.&#8221;</p>
<p>Uqa&#8217;il pun keluar dan pergi mendapatkan pohon-pohon itu dan sebelum dia menyelesaikan tugas itu ternyata pohon-pohon suda tumbang dari akarnya serta sudah mengelilingi di sekitar baginda S.A.W selesai dari hajatnya. Maka Uqa&#8217;il kembali ke tempat pohon-pohon itu.<br />
Peristiwa kedua adalah, bahawa Uqa&#8217;il berasa haus dan setelah mencari air ke mana pun jua namun tidak ditemui. Maka baginda S.A.W berkata kepada Uqa&#8217;il bin Abi Thalib, &#8220;Hai Uqa&#8217;il, dakilah gunung itu, dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan, &#8220;Jika padamu ada air, berilah aku minum!&#8221;</p>
<p>Uqa&#8217;il lalu pergilah mendaki gunung itu dan berkata kepadanya sebagaimana yang telah disabdakan baginda itu. Maka sebelum ia selesai berkata, gunung itu berkata dengan fasihnya, &#8220;Katakanlah kepada Rasulullah, bahawa aku sejak Allah S.W.T menurunkan ayat yang bermaksud : (&#8220;Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari (seksa) api neraka yang umpannya dari manusia dan batu).&#8221; &#8220;Aku menangis dari sebab takut kalau aku menjadi batu itu maka tidak ada lagi air padaku.&#8221;</p>
<p>Peristiwa yang ketiga ialah, bahawa ketika Uqa&#8217;il sedang berjalan dengan Nabi, tiba-tiba ada seekor unta yang meloncat dan lari ke hadapan rasulullah, maka unta itu lalu berkata, &#8220;Ya Rasulullah, aku minta perlindungan darimu.&#8221; Unta masih belum selesai mengadukan halnya, tiba-tiba datanglah dari belakang seorang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus.Melihat orang Arab kampung dengan membawa pedang terhunus.<br />
Melihat orang Arab kampung itu, Nabi Muhammad S.A.W berkata, &#8220;Hendakl mengapakah kamu terhadap unta itu ?&#8221;</p>
<p>Jawab orang kampungan itu, &#8220;Wahai Rasulullah, aku telah membelinya dengan harta yang mahal, tetapi dia tidak mahu taat atau tidak mau jinak, maka akan kupotong saja dan akan kumanfaatkan dagingnya (kuberikan kepada orang-orang yang memerlukan).&#8221; Rasulullah S.A.W bertanya, &#8220;Mengapa engkau menderhakai dia ?&#8221;<br />
Jawab unta itu, &#8220;Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak menderhakainya dari satu pekerjaan, akan tetapi aku menderhakainya dari sebab perbuatannya yang buruk.. Kerana kabilah yang dia termasuk di dalam golongannya, sama tidur meninggalkan solat Isya&#8217;. Kalau sekiranya dia mahu berjanji kepada engkau akan mengerjakan solat Isay&#8217; itu, maka aku berjanji tidak akan menderhakainya lagi. Sebab aku takut kalau Allah menurunkan seksa-Nya kepada mereka sedang aku berada di antara mereka.&#8221;</p>
<p>Akhirnya Nabi Muhammad S.A.W mengambil perjanjian orang Arab kampung itu, bahawa dia tidak akan meninggalkan solat Isya&#8217;. Dan baginda Nabi Muhammad S.A.W menyerahan unta itu kepadanya. Dan dia pun kembali kepada keluarganya.</p>
<br />Posted in Hikmah Kissah-kissah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aqasy.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aqasy.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aqasy.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aqasy.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aqasy.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aqasy.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aqasy.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aqasy.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aqasy.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aqasy.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aqasy.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aqasy.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aqasy.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aqasy.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=183&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aqasy.wordpress.com/2009/09/23/gunung-menangis-takut-tergolong-batu-api-neraka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92a2da726325e80a272649dd41cd8b40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aqasy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NIAT TAUBAT MENUKAR ARAK MENJADI MADU</title>
		<link>http://aqasy.wordpress.com/2009/09/23/niat-taubat-menukar-arak-menjadi-madu/</link>
		<comments>http://aqasy.wordpress.com/2009/09/23/niat-taubat-menukar-arak-menjadi-madu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 08:22:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aqasy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah Kissah-kissah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aqasy.wordpress.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari, Omar Al-Khatab sedang bersiar-siar di lorong-lorong dalam kota Madinah. Di hujung simpang jalan beliau ternampak dengan pemuda yang membawa kendi. Pemuda itu menyembunyikan kendi itu di dalam kain sarung yang diselimutkan di belakangnya. Timbul syak di hati Omar AL-Khatab apabila terlihat keadaan itu, lantas bertanya, &#8220;Apa yang engkau bawa itu?&#8221; Kerana panik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=180&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu hari, Omar Al-Khatab sedang bersiar-siar di lorong-lorong dalam kota Madinah. Di hujung simpang jalan beliau ternampak dengan pemuda yang membawa kendi. Pemuda itu menyembunyikan kendi itu di dalam kain sarung yang diselimutkan di belakangnya. Timbul syak di hati Omar AL-Khatab apabila terlihat keadaan itu, lantas bertanya, &#8220;Apa yang engkau bawa itu?&#8221;<br />
Kerana panik sebab takut dimarahi Omar yang terkenal dengan ketegasannya, pemuda itu menjawab dengan terketar-ketar iaitu benda yang dibawanya ialah madu. padahal benda itu adalah khamar. Dalam keadaannya yang berbicara bohong itu pemuda tadi sebenarnya ingin berhenti dari terus meminum arak. Dia sesungguhnya telah menyesal dan insaf dan menyesal melakukan perbuatan yang dicegah oleh agama itu. Dalam penyesalan itu dia berdoa kepada Tuhan supaya Omar Al-Khatab tidak sampai memeriksa isi kendinya yang ditentang oleh agama itu.</p>
<p>Pemuda itu masih menunggu sebarang kata-kata Khalifah, &#8220;Kendi ini berisikan madu.&#8221;<br />
Kerana tidak percaya, Khalifah Omar ingin melihat sendiri isi kendi itu. Rupanya doa pemuda itu telah dimakbulkan oleh Allah seketika itu juga telah menukarkan isi kendi itu kepada madu. Begitu dia berniat untuk bertaubat, dan Tuhan memberikan hidayah, sehingga niatnya yang ikhlas, ia terhindar dari pergolakan Khalifah Omar Al-Khatab, yang mungkin membahayakan pada dirinya sendiri kalau kendi itu masih berisi khamar.</p>
<p>Allah Taala berfirman,<br />
&#8221; Seteguk khamar diminum maka tidak diterima Allah amal fardhu dan sunatnya selama tiga hari. Dan sesiapa yang minum khamar segelas, maka Allah Taala tidak menerima solatnya selama empat puluh hari. Dan orang yang tetap minum khamar, maka selayaknya Allah memberinya dari &#8216;Nahrul Khabal&#8217;.<br />
Ketika ditanya, &#8220;Ya Rasulullah, apakah Nahrul Khabal itu ?&#8221;<br />
Jawab Rasulullah, &#8220;Darah bercampur nanah orang ahli neraka ! &#8221; </p>
<br />Posted in Hikmah Kissah-kissah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aqasy.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aqasy.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aqasy.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aqasy.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aqasy.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aqasy.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aqasy.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aqasy.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aqasy.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aqasy.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aqasy.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aqasy.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aqasy.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aqasy.wordpress.com/180/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=180&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aqasy.wordpress.com/2009/09/23/niat-taubat-menukar-arak-menjadi-madu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92a2da726325e80a272649dd41cd8b40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aqasy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RASULULLAH S.A.W. DAN SEORANG ARAB BADUI</title>
		<link>http://aqasy.wordpress.com/2009/09/23/rasulullah-s-a-w-dan-seorang-arab-badui/</link>
		<comments>http://aqasy.wordpress.com/2009/09/23/rasulullah-s-a-w-dan-seorang-arab-badui/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 08:08:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aqasy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah Kissah-kissah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aqasy.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Di waktu Rasulullah SAW. sedang asyik bertawaf di Ka&#8217;bah, beliau mendengar seorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: &#8216;Ya Karim! Ya Karim!&#8217; Rasulullah s.a.w menirunya membaca &#8216;Ya Karim! Ya Karim!&#8217; Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka&#8217;bah, dan berzikir lagi: &#8216;Ya Karim! Ya Karim!&#8217; Rasulullah SAW yang berada dibelakangnya mengikuti zikirnya &#8216;Ya Karim! Ya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=176&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di waktu Rasulullah SAW. sedang asyik bertawaf di Ka&#8217;bah, beliau mendengar seorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: &#8216;Ya Karim! Ya Karim!&#8217; Rasulullah s.a.w menirunya membaca &#8216;Ya Karim! Ya Karim!&#8217; Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka&#8217;bah, dan berzikir lagi: &#8216;Ya Karim! Ya Karim!&#8217; Rasulullah SAW yang berada dibelakangnya mengikuti zikirnya &#8216;Ya Karim! Ya Karim!&#8217; Merasa seperti di olok-olokan, orang itu menoleh kebelakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata: &#8216;Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokan ku, karena aku ini adalah orang Arab Badui? Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.&#8217; Mendengar bicara orang Badui itu, Rasulullah SAWtersenyum, lalu bertanya: &#8216;Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?&#8221;Belum,&#8217; jawab orang itu. &#8216;Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?&#8217; <span id="more-176"></span>&#8216;Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan saya membenarkan putusannya sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,&#8217; kata orang arab Badui itu pula.</p>
<p>Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: &#8216;Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!&#8217; Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.&#8217;Tuan ini Nabi Muhammad?!&#8221;Ya,&#8217; jawab Nabi SAW Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki RasulullahSAW Melihat hal itu, Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya: &#8216;Wahai orang Arab! Janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan serupa itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya.Ketahuilah, ALLAH mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita ancaman bagi yang mengingkarinya.&#8217; Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: &#8216;Ya Muhammad! Rabb As-Salam (puncak keselamatan) menyampaikan salam kepadamu dan bersabda: Katakanlah kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih ALLAH. Ketahuilah bahwa ALLAH akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!&#8217;. Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi.</p>
<p>Orang Arab itu pula berkata: &#8216;Demi keagungan serta kemulian ALLAH, jika ALLAH akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNYA!&#8217; kata orang Arab badui itu. &#8216;Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan ALLAH?&#8217; Rasulullah bertanya kepadanya. &#8216;Jika ALLAH akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa besar maghfirahNYA,&#8217; jawab orang itu. &#8216;Jika DIA memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan mem perhitungkan betapa keluasan pengampunanNYA. Jika DIA memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawananNYA!&#8217;.</p>
<p>Mendengar ucapan orang Arab Badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu, air mata beliau meleleh membasahi janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril AS turun lagi seraya berkata: &#8216;Ya Muhammad! Rabb As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sungguh karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Nah katakan kepada temanmu itu, bahwa ALLAH tak akan menghisab dirinya, juga tak akan memperhitungkan kemaksiatannya. ALLAH sudah mengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di surga nanti!&#8217; Betapa sukanya orang Arab badui itu, apabila mendengar berita tersebut. Ia lalu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.</p>
<br />Posted in Hikmah Kissah-kissah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aqasy.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aqasy.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aqasy.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aqasy.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aqasy.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aqasy.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aqasy.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aqasy.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aqasy.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aqasy.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aqasy.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aqasy.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aqasy.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aqasy.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=176&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aqasy.wordpress.com/2009/09/23/rasulullah-s-a-w-dan-seorang-arab-badui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92a2da726325e80a272649dd41cd8b40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aqasy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WAHYU TERAKHIR KEPADA RASULULLAH SAW</title>
		<link>http://aqasy.wordpress.com/2009/09/12/wahyu-terakhir-kepada-rasulullah-saw/</link>
		<comments>http://aqasy.wordpress.com/2009/09/12/wahyu-terakhir-kepada-rasulullah-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 05:58:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aqasy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah Kissah-kissah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aqasy.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan bahwa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu asar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan [Wada']. Pada masa itu Rasulullah SAW berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah SAW tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=157&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diriwayatkan bahwa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu asar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan [Wada'].<br />
Pada masa itu Rasulullah SAW berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah SAW tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah SAW bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril AS dan berkata:</p>
<p>&#8220;Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan demikian juga apa yang terlarang olehnya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu.&#8221;<br />
Setelah Malaikat Jibril AS pergi maka Rasulullah SAW pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah.Setelah Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah SAW pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril AS. Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata:</p>
<p>&#8220;Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna.&#8221;<span id="more-157"></span><br />
Apabila Abu Bakar ra. mendengar keterangan Rasulullah SAW itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata: &#8220;Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempuma.&#8221; Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata, &#8220;Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahwa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahwa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah SAW. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda.&#8221;</p>
<p>Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar ra. maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar ra., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah SAW tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat, &#8220;Ya Rasulullah SAW, kami baru kembali dari rumah Abu Bakar ra. dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau.&#8221; Apabila Rasulullah SAW mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah SAW dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar ra.. Setelah Rasulullah SAW sampai di rumah Abu Bakar ra. maka Rasulullah SAW melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya, &#8220;Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?.&#8221; Kemudian Ali ra. berkata, &#8220;Ya Rasulullah SAW, Abu Bakar ra. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?.&#8221; Lalu Rasulullah SAW berkata: &#8220;Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar ra. adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat&#8221;.</p>
<p>Setelah Abu Bakar ra. mendengar pengakuan Rasulullah SAW, maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan. Sementara &#8216;Ukasyah ra. berkata kepada Rasulullah SAW, &#8216;Ya Rasulullah, waktu itu saya anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu apakah anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta baginda.&#8221; Rasulullah SAW berkata: &#8220;Wahai &#8216;Ukasyah, Rasulullah SAW sengaja memukul kamu.&#8221; Kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Bilal ra., &#8220;Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku ke mari.&#8221; Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fathimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, &#8220;Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas [diqishash].&#8221;</p>
<p>Setelah Bilal sampai di rumah Fathimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fathimah ra. menyahut dengan berkata: &#8220;Siapakah di pintu?.&#8221; Lalu Bilal ra. berkata: &#8220;Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW unluk mengambil tongkat beliau.&#8221;Kemudian Fathimah ra. berkata: &#8220;Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya.&#8221; Berkata Bilal ra.: &#8220;Wahai Fathimah, Rasulullah SAW telah menyediakan dirinya untuk diqishash.&#8221; Bertanya Fathimah ra. lagi: &#8220;Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah SAW?&#8221; Bilal ra. tidak menjawab perlanyaan Fathimah ra., Setelah Fathimah ra. memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah SAW Setelah Rasulullah SAW menerima tongkat tersebut dari Bilal ra. maka beliau pun menyerahkan kepada &#8216;Ukasyah.</p>
<p>Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar ra. dan Umar ra. tampil ke depan sambil berkata: &#8220;Wahai &#8216;Ukasyah, janganlah kamu qishash baginda SAW tetapi kamu qishashlah kami berdua.&#8221; Apabila Rasulullah SAW mendengar kata-kata Abu Bakar ra. dan Umar ra. maka dengan segera beliau berkata: &#8220;Wahai Abu Bakar, Umar dudukiah kamu berdua, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua.&#8221; Kemudian Ali ra. bangun, lalu berkata, &#8220;Wahai &#8216;Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah SAW oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah SAW&#8221; Lalu Rasultillah SAW berkata, &#8220;Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah SWT telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.&#8221; Setelah itu Hasan dan Husin bangun dengan berkata: &#8220;Wahai &#8216;Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah SAW, kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah SAW&#8221; Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah SAW pun berkata, &#8220;Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua.&#8221; Berkata Rasulullah SAW &#8220;Wahai &#8216;Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul.&#8221;</p>
<p>Kemudian &#8216;Ukasyah berkata: &#8220;Ya Rasulullah SAW, anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.&#8221; Maka Rasulullah SAW pun membuka baju. Setelah Rasulullah SAW membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah &#8216;Ukasyah melihat tubuh Rasulullah SAW maka ia pun mencium beliau dan berkata, &#8220;Saya tebus anda dengan jiwa saya ya Rasulullah SAW, siapakah yang sanggup memukul anda. Saya melakukan begini adalah sebab saya ingin menyentuh badan anda yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan badan saya. Dan Allah SWT menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu.&#8221; Kemudian Rasulullah SAW berkata, &#8220;Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya.&#8221; Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jemaah pun berkata, &#8220;Wahai &#8216;Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi derajat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah SAW di dalam syurga.&#8221;</p>
<p>Apabila ajal Rasulullah SAW makin dekat maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Aisyah ra. dan beliau berkata: &#8220;Selamat datang kamu semua semoga Allah SWT mengasihi kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan mentaati segala perintahnya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dan menempatkannya di syurga. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kamu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kafanilah aku dengan kain yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. Pertama yang akan menshalatkan aku ialah Allah SWT, kemudian yang akan menshalat aku ialah Jibril AS, kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, malaikat Mikail, dan yang akhir sekali malaikat lzrail berserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu baru kamu semua masuk bergantian secara berkelompok bershalat ke atasku.&#8221;</p>
<p>Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka pun menangis dengan nada yang keras dan berkata, &#8220;Ya Rasulullah SAW anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam penemuan kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila anda sudah tiada nanti kepada siapakah akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?.&#8221; Kemudian Rasulullah SAW berkata, &#8220;Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam sahaja. Yang pandai bicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Quran dan Hadis-ku dan sekiranya hati kamu itu berkeras maka lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati.&#8221;</p>
<p>Setelah Rasulullah SAW berkata demikian, maka sakit Rasulullah SAW bermula. Dalam bulan safar Rasulullah SAW sakit selama 18 hari dan sering diziaiahi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa Rasulullah SAW diutus pada hari Senin dan wafat pada hari Senin. Pada hari Senin penyakit Rasulullah SAW bertambah berat, setelah Bilal ra. menyelesaikan azan subuh, maka Bilal ra. pun pergi ke rumah Rasulullah SAW. Sesampainya Bilal ra. di rumah Rasulullah SAW maka Bilal ra. pun memberi salam, &#8220;Assalaarnualaika ya rasulullah.&#8221; Lalu dijawab oleh Fathimah ra., &#8220;Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan beliau.&#8221; Setelah Bilal ra. mendengar penjelasan dari Fathimah ra. maka Bilal ra. pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fathimah ra. itu. Apabila waktu subuh hampir hendak lupus, lalu Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah SAW dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal ra. telah di dengar oleh Rasulullah SAW dan baginda berkata, &#8220;Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan shalat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir.&#8221; Setelah mendengar kata-kata Rasulullah SAW maka Bilal ra. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala dengan berkata: &#8220;Aduh musibah.&#8221;</p>
<p>Setelah Bilal ra. sarnpai di masjid maka Bilal ra. pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya. Abu Bakar ra. tidak dapat menahan dirinya apabila ia melihat mimbar kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar ra. menangis sehingga ia jatuh pingsan. Melihatkan peristiwa ini maka riuh rendah tangisan sahabat dalam masjid, sehingga Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah ra.; &#8220;Wahai Fathimah apakah yang telah berlaku?.&#8221; Maka Fathimah ra. pun berkata: &#8220;Kekecohan kaum muslimin, sebab anda tidak pergi ke masjid.&#8221; Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali ra. dan Fadhl bin Abas ra., lalu Rasulullah SAW bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah Rasulullah SAW sampai di masjid maka beliau pun bershalat subuh bersama dengan para jemaah.</p>
<p>Setelah selesai shalat subuh maka Rasulullah SAW pun berkata, &#8220;Wahai kaum muslimin, kamu semua senantiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah, oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah SWT dan mengerjakan segala perintahnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia.&#8221; Setelah berkata demikian maka Rasulullah SAW pun pulang ke rumah beliau. Kemudian Allah SWT mewahyukan kepada malaikat lzrail AS, &#8220;Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah lerlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masukiah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku.&#8221;</p>
<p>Setelah malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah SWT maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di depan rumah Rasulullah SAW maka ia pun memberi salam, &#8220;Assalaamu alaikum yaa ahla baitin nubuwwati wa ma danir risaalati a adkhulu?&#8221; (Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu semua sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risaalah, bolehkan saya masuk?) Apabila Fathimah mendengar orang memberi salam maka ia-pun berkata; &#8220;Wahai hamba Allah, Rasulullah SAW sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat.&#8221; Kemudian malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW bertanya kepada Fathimah ra., &#8220;Wahai Fathimah, siapakah di depan pintu itu.&#8221; Maka Fathimah ra. pun berkata, &#8220;Ya Rasulullah, ada seorang Arab badwi memanggil mu, dan aku telah katakan kepadanya bahwa anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga terasa menggigil badan saya.&#8221; Kemudian Rasulullah SAW berkata; &#8220;Wahai Fathimah, tahukah kamu siapakah orang itu?.&#8221; Jawab Fathimah,&#8221;Tidak ayah.&#8221; &#8220;Dia adalah malaikat lzrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur.&#8221; Fathimah ra. tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahwa saat perpisahan dengan ayahandanya akan berakhir, dia menangis sepuas-puasnya. Apabila Rasulullah SAW mendengar tangisan Falimah ra. maka beliau pun berkata: &#8220;Janganlah kamu menangis wahai Fathimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu dengan aku.&#8221;</p>
<p>Kemudian Rasulullah SAW pun mengizinkan malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap, &#8220;Assalamuaalaikum ya Rasulullah.&#8221; Lalu Rasulullah SAW menjawab: &#8220;Wa alaikas saalamu, wahai lzrail engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut ruhku?&#8221; Maka berkata malaikat lzrail: &#8220;Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut ruhmu, itupun kalau engkau izinkan, kalau engkau tidak izinkan maka aku akan kembali.&#8221; Berkata Rasulullah SAW, &#8220;Wahai lzrail, di manakah kamu tinggalkan Jibril?&#8221; Berkata lzrail: &#8220;Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, para malaikat sedang memuliakan dia.&#8221; Tidak beberapa lama kemudian Jibril AS pun turun dan duduk di dekat kepala Rasulullah SAW.</p>
<p>Apabila Rasulullah SAW melihat kedatangan Jibril AS maka Rasulullah SAW pun berkata: &#8220;Wahai Jibril, tahukah kamu bahwa ajalku sudah dekat&#8221; Berkata Jibril AS, &#8220;Ya aku tahu.&#8221; Rasulullah SAW bertanya lagi, &#8220;Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakan aku disisi Allah SWT&#8221; Berkata Jibril AS, &#8220;Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat bersusun rapi menanti ruhmu dilangit. Kesemua pintu-pintu syurga telah dibuka, dan kesemua bidadari sudah berhias menanti kehadiran ruhmu.&#8221; Berkata Rasulullah SAW: &#8220;Alhamdulillah, sekarang kamu katakan pula tentang umatku di hari kiamat nanti.&#8221; Berkata Jibril AS, &#8220;Allah SWT telah berfirman yang bermaksud,</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya aku telah melarang semua para nabi masuk ke dalam syurga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki syurga sebelum umatmu memasuki syurga.&#8221;</p>
<p>Berkata Rasulullah SAW: &#8220;Sekarang aku telah puas hati dan telah hilang rasa susahku.&#8221; Kemudian Rasulullah SAW berkata: &#8220;Wahai lzrail, mendekatlah kamu kepadaku.&#8221; Selelah itu Malaikat lzrail pun memulai tugasnya, apabila ruh beliau sampai pada pusat, maka Rasulullah SAW pun berkata: &#8220;Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati.&#8221; Jibril AS mengalihkan pandangan dari Rasulullah SAW apabila mendengar kata-kata beliau itu. Melihatkan telatah Jibril AS itu maka Rasulullah SAW pun berkata: &#8220;Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?&#8221; Jibril AS berkata: &#8220;Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala kamu dalam sakaratul maut?&#8221; Anas bin Malik ra. berkata: &#8220;Apabila ruh Rasulullah SAW telah sampai di dada beliau telah bersabda,</p>
<p>&#8220;Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu semua menjaga shalat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke atasmu.&#8221;</p>
<p>Ali ra. berkata: &#8220;Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengan Rasulullah SAW berkata: &#8220;Umatku, umatku.&#8221; Telah bersabda Rasulullah SAW bahwa: &#8220;Malaikat Jibril AS telah berkata kepadaku; &#8220;Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf, dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca selawat untukmu, kalau sesiapa yang mengambil seekor ikan dari laut tersebut maka akan lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu.&#8221;</p>
<br />Posted in Hikmah Kissah-kissah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aqasy.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aqasy.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aqasy.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aqasy.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aqasy.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aqasy.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aqasy.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aqasy.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aqasy.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aqasy.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aqasy.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aqasy.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aqasy.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aqasy.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aqasy.wordpress.com&amp;blog=9040074&amp;post=157&amp;subd=aqasy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aqasy.wordpress.com/2009/09/12/wahyu-terakhir-kepada-rasulullah-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/92a2da726325e80a272649dd41cd8b40?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aqasy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
